Toko Perlengkapan Bayi

Toko Perlengkapan Bayi
Toko Perlengkapan bayi

Jumat, 13 September 2013

Cara Membuat Agar Anak Aktif

Cara Membuat Agar Anak Aktif. Batita pada umunya tidak menyukai duduk diam. Mereka akan selalu berusaha melepaskan diri dari dekapan anda. Walaupun bagi anda hal tersebut melelahkan, namun bagi batita itu hal yang sangat menyenangkan. Secara alami batita akan mencari dan melakukan kegiatan yang dapat menyehatkan sekaligus menyenangkan untuk mereka – hampir seluruh waktu terjaga mereka akan dipergunakan untuk bergerak dan bermain.


Batita hanya mempergunakan sekitar satu jam dari waktu terjaganya untuk berhenti beraktivitas. Dalam sehari batita menggunakan minimal 30 menit waktu nya untuk melakukian aktivitas yang terarah (diarahkan oleh orang tua/pengasuh) dan minimal 60 menit untuk beraktivitas bebas.

Di rumah
Apabila anda sendiri yang menjaga anak anda, maka anda adalah pemegang kendali. Jangan batasi waktu untuk anak beraktivitas dengan membiarkan mereka terlalu lama di kereta dorong, kursi khusus untuk mobil ataupun kursi makan. Hal-hal tersebut akan membatasi dan menghambat keaktifan anak.

Selain itu membatasi waktu anak di depan TV, merupakan salah satu cara terbaik untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik/bermain. Bahkan anak-anak di bawah 2 tahun sangat tidak disaran kan untuk menonton TV baik DVD maupun video. Anak-anak di usia yang lebih tua mungkin dapat menggunakan sarana TV untuk beristirahat , namun mereka tetap tidak perlu duduk berlama d depan TV. Program pendidikan yang disajikan teliviusi pun selalu menekan kan kegiatan aktifitas fisik seperti di kehidupan nyata misalnya mencari tahu cara bekerja suatu mainan, kegiatan bermain fisik ataupun bernyanyi bersama. Apabila anda memutuskan untuk meberikan anak anda yang lebih tua waktu untuk menonton telivisi, cobalah ikuti anjuran berikut : Tidak lebih dari 1-2 jam sehari untuk program pendidikan berkualitas. Jika memungkinkan , pilih stasiun TV tanpa program komersial, iklan makanan pada stasiun TV dapat mempengaruhi anak-anak, terlebih makanan yang diiklankan pada umum nya adalah makanan-makanan dengan kadungan nutrisi yang rendah. Alternatif lainnya adalah video yang disesuaikan dengan usia anak, terutama yang dapat mengajak anak untuk mau beraktifitas bermain.

Berikut berisikan beberapa ide untuk membuat batita selalu aktif.

Aktivitas Bersama Pengasuh

Bermain Bebas
BatitaYang Muda (12-24 bulan)

* Mendengarkan musik dan menari bersama
* Berpegangan tangan dan meloncat bersama-sama
* Bermain di halaman belakang, taman ataupun tempat bermain terbuka lainnya.
* Memanjat tangga dengan pengawasan dan jika memungkinkan menggunakan perlengkapan memanjat yang diperlukan.
* Bermain dengan mainan tarik-dorong (mainan pembuat popcorn, sapu mainan, vakum mainan).
* Meniru aktivitas hewan atau orang dewasa ( menggunting rumput, menyiapkan makan malam/masak-memasak, mempergunakan perkakas )
* Bermain dengan mainan berbagia bentu dan mainan lainnya.

Batita Yang lebih Tua (24-36 bulan)

* Bermain di halaman ataupun tempat bermain lainnya
* Bermain “mengikuti pemimpin ,”Memutari bunga mawar” dan permainan lainnya
* Bermain Bola.
* Take a mommy-and-me movement class for toddlers.
* Berjalan seperti penguin atau meniru hewan lainnya
* Menikmati permainan imaginasi ( bermain dengan mobil-mobilan, bermain sandiwara, merawat boneka)
* Bermain balok
* Menggambar dengan pensil berwarna.

Di luar Rumah
Apabila batita anda menghabiskan waktu dengan pengasuh selain anda atau dititipkan pada tempat penitipan anak, anda perlu mengetahui dengan pasti aktifitas batita anda :

* Apakah mereka banyak menghabiskan waktu diluar ruangan?
* Adakah jadwal kegiatan tertentu yang diterapkan?
* Apakah mereka mengijinkan anak anada menonton TV atau video? Seberapa banyak waktu yang dialokasikan untuk menonton ?

Alternatif lainnya adalah mengikutkan anak pada kegiatan bermain bersama yang dikelola pihak tertentu ( Playgroup), mengikutkan anak pada kegiatan ini merupakan cara yang baik untuk dapat berkumpul dan bermain bersama. Tempat bermain ini juga sangat baik untuk orang tua saling bersosialisasi. Orang tua dapat membuat rencana bermain kelompok yang terarah untuk anak-anak, seperti melakukan permainan tertentu bersama dan membiarkan anak-anak bermain sesuai dengan keinginannya pada sisa waktu lainnya. Tempat ideal untuk kegiatan bermain bersama ini adalah tempat terbuka atau ruangan tertutup yang cukup besar.

Apabila anda sudah pernah melihat anak-anak batita bermain, anda mungkin memperhatiklan bahwa mereka tidak bermain seperti layaknya anak anak yang lebih tua usianya. Namun walau begitu mereka sangat menikmati waktu bersama anak lain. Pada saat nya nanti mereka akan bermain dan berkerja sama

Menyediakan Lingkuangan Yang Aman
Tempat bermain batita haruslah aman karena batita akan sangat aktif bergerak. Di rumah, gunakanlah pintu/pagar pengaman, ataupun alat pengaman lainnya sehingga minimal dalam rumah terdapat satu ruangan yang dapat digunakan batita bermain dengan aman. Di luar rumah , pilihlah tempat penitipan anak ataupun tempat bermain dengan fasilitas bermain yang masih baru serta perhatikan apakanh permainan tersebut sesuai dengan usia anak anda sehingga tidak terlalu berbahaya atau terlalu besar untuk anak anda.. Juga pastikan apakah ada opengelompokan anak menurut usia ditempat tersebut- hal-hal ini dimaksudkan untuk menghidari terjadinya kecelakaan pada anak.

Namun perlu diingat, sebagus apapun keamanan suatu lingkungan tetap tidak boleh lepas dari pengawasan dewasa. Terlebih karena banayk batita yang tidak merasakan takut terhadap aktivitas apapun, mereka mungkin saja memanjat pada permainan panjat anak yang lebih dewasa dengan tidak hati-hati.
Pengawasan yang ketat terhadap batita sangat penting, batita masih belum memilki keseimbangan, koordinasi dan perhitungan walupun terlihat cukup lincah. Sehingga selalu awasi mereka dan siap untuk menjaga mereka bila sesuatu terjadi.

Semoga tips Cara Membuat Agar Anak Aktif, bermanfaat buat Anda :)

Agar Anak Tidak Takut Saat Sekolah

Agar Anak Tidak Takut Saat Sekolah. Tahun ini, balita akan memasuki dunia sekolah. Sebuah dunia yang tentu saja baru baginya. Di mana, tidak akan ada Ayah atau Bunda yang akan selalu menemani. Sehingga, di minggu pertama sekolahnya, balita merasa takut tak mau berpisah dengan orangtuanya. Untuk mengantisipasinya, terlebih dahulu lakukan beberapa hal berikut ini:


* Latihan berpisah. Seminggu sebelum sekolah, lakukan latihan perpisahan. Caranya, lebih sering meninggalkan anak dengan nenek atau pengasuh, namun tepati janji menemuinya kembali pada waktunya. Ciptakan salam berpisah, lambaian tangan rahasia, toss atau cium pipi.
* Kenali sekolah. Sebelum kulai sekolah, ajak anak melihat kelas, bertemu di halaman sekolah, agar anak familiar.
* Jangan besar-besarkan. Jangan terlalus erring bertanya, “Kmu senang, kan, sebentar lagi sekolah?” karen abikin gugup. Jangan menjanjikan sesuatu yang tdiak bisa dikontrol, misalnya, “Kamu akan punya banyak teman.” Jika pengalaman anak tidak sesua janji tersebut, sekolah malan jadi hal yang menakutkan.
* Ajak anak belanja keperluan sekolah. Kegembiraan memilih perlengkapan sekolah menciptakan perasaan positif tentang sekolah.
* Temukan wajah yang sudah dikenal. Ajak anam menemui guru atau teman barunya sebelum sekolah di mulai. Setidaknya ada 1-2 wajah yang sudah dikenalnya saat masuk sekolah.
* Bepikir positif. Anak bis amerasakan suasana hati Anda, karena itu Anda sendiri harus tenang.
* Ice breaker. Ajak anak membuat gambar untuk diberikan kepada ibu guru di hari pertama. Selain ice breaker, anak gembira jika gambar itu dipajang.
* Tradisi hari pertama. Berfoto bersama atau sarapan special, jadikan hari pertama sekolah setiap tahunya pengalaman menyenangkan.
* Berbagai pengalaman, katakana sewaktu kecil Anda juga hgugup sekolah, tapi lama-lama bergantu senang.
* Ingatkan rumah. Jangan terlambat tiba di sekolah karena anak dan Anda akan tambah gugup!
* Jangan “Kabur.” Saat meninggalkan anak di kelas, jangan berbohong Anda mau ke toilet. Pastikan anak tahu Anda pergi untuk menjemputnya kembali.

Semoga tips Agar Anak Tidak Takut Saat Sekolah, bermanfaat buat Anda :)

Agar Anak Mau Bermain Bersama Teman

Agar Anak Mau Bermain Bersama. Anak Anda yang kini menginjak usia lima tahun tampak enggan terlibat dalam permainan bersama teman. Apa sebabnya?


Bermain adalah hidup anak-anak. Tak ada anak yang tidak suka bermain. Jika si lima tahun Anda terlihat tidak tertarik untuk bermain atau terlibat permainan bersama teman-temannya, Anda perlu mencermati.

Mengapa enggan ikut? Biasanya anak tidak tertarik bergabung dalam suatu permainan karena ia merasa kurang berkenan dengan teman-teman bermain. Memang anak usia sekitar lima tahun yang telah mengenal kehidupan berteman, biasanya dapat menentukan teman dengan siapa ia ingin bermain bersama, dan teman mana yang tidak masuk hitungannya. Jadi, keengganannya bergabung mungkin karena ia merasa kurang klop dengan si teman

Kemungkinan lain adalah, jenis permainan yang dimainkan teman-temannya tak lagi menarik baginya. Hal ini bisa terjadi karena ia terlalu sering memainkan permainan tersebut, sehingga kehilangan tantangan. Bisa jadi pula keterampilan si lima tahun jauh di atas tuntutan permainan tersebut, sehingga ia merasa bosan.

Tak cocok dengan teman. Bila anak tampak enggan terlibat dalam suatu permainan anak karena merasa tak cocok dengan temannya, Anda dapat mendorongnya bergabung tanpa memaksa. Pada usia lima tahun, anak memang mulai memilih-milih teman. Jadi, jika ia enggan terlibat dalam suatu permainan, bisa saja karena ia merasa teman-teman yang tengah bermain itu bukan benar-benar teman pilihannya.

Saat bermain ibu-ibuan, misalnya, selain mendorong anak bergabung, Anda pun bisa ikut sebagai salah satu pemainnya. Ketengahkan hal-hal yang dapat membangkitkan minat si lima tahun. Juga, arahkan dia untuk berdialog dengan teman. Jika si lima tahun mulai tampak senang dan bisa menikmati permainan, Anda dapat meninggalkannya perlahan.

Minggu, 08 September 2013

Cara Mengatasi Anak Malas Sekolah

Cara Mengatasi Anak Malas Sekolah. Ada banyak hal yang menyebabkan Si Kecil malas ke sekolah. Dengan menemukan akar permasalahannya dan komunikasi yang baik antara orangtua dan guru, anak pun akan kembali semangat ke sekolah. "Malas, ah. Aku enggak mau sekolah". Ucapan ini kerap terdengar dari mulut Si Kecil ketika dibangunkan pagi-pagi untuk berangkat ke sekolah. Terutama jika itu adalah hari pertamanya di sekolah baru atau hari pertama masuk sekolah lagi setelah libur panjang.


 Pakar Psikologi Perkembangan Dra. Ratih Ibrahim, Psi. dari Klinik Perkembangan, Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, mengungkapkan, satu hal utama penyebab anak malas pergi ke sekolah adalah karena sekolah dipersepsikan sebagai tempat yang tidak menyenangkan. "Anak hanya mau pergi ke tempat yang menurutnya menyenangkan dan bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan," ucap Ratih. Menurut Ratih, empat hal yang harus dipenuhi agar anak tidak malas pergi ke sekolah, yaitu: - Situasi dan kondisi sekolah.

Apakah sekolahnya bersih, rapi, dan banyak tempat-tempat atau sarana yang menarik. - Kegiatan. Apakah kegiatan di sekolah itu menyenangkan. - Lingkungan. apakah orang-orang di dalamnya menyenangkan, termasuk guru dan teman-temannya. - Waktu tepat. Apakah waktu pergi ke sekolah itu sesuai dengan jam biologis si anak. Temukan Masalahnya Bagi anak yang terbiasa dengan rumah yang bersih dan rapi, masuk ke sekolah yang kondisinya jelek, kotor, gelap, dan menakutkan, adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.

Baru membayangkannya saja si anak bisa langsung bilang ogah ketika dibangunkan pagi-pagi. Itu sebabnya, orangtua perlu jeli ketika memilihkan sekolah. "Harus ada pertimbangan, termasuk kebiasaan-kebiasaan anaknya seperti apa. Memilih sekolah yang tepat itu bukan berarti gedungnya mewah atau mahal, tapi cocok enggak sekolah ini buat anaknya. SDM-nya bagaimana, guru-gurunya friendly atau enggak," jelas psikolog Indonesian Idol ini.

 Selain kondisi sekolah, kurikulum dan budaya yang ada di sekolah itu juga harus diperhatikan. "Misalnya mau sekolah yang berdasarkan agama, tapi cocok enggak penerapannya ke anak? Kalau anak dibuat jadi serba takut, mungkin sekolah tersebut bukan sekolah yang tepat bagi si anak. Semua itu harus dicari tahu." Anak juga akan merasa "tersiksa" di sekolah, jika tugas-tugas atau kegiatan yang harus dikerjakannya di sekolah ternyata dinilai terlalu sulit buat dia. Baik itu pelajaran, tuntutan, maupun pekerjaannya, karena di rumah dia belum terbiasa atau tidak pernah diajari dan dilatih melakukan hal-hal tersebut. Atau mungkin juga tugas-tugas yang diberikan memang tidak sesuai dengan tuntutan umurnya. "Anak bisa langsung enggak pede, nih. Karena enggak pede, dia jadi enggak mau ke sekolah. Apalagi kalau cara memaksa si anak melakukan sesuatu enggak cocok dengan hatinya." 

Ada juga anak yang malas ke sekolah karena teman-teman barunya dinilai tidak cocok. "Misalnya, hobinya berbeda, atau dia merasa teman-temannya nyuekin dia. Ada juga teman yang galak dan suka ganggu. Atau dia sering ditertawakan, atau malah mungkin enggak punya teman sama sekali. Bisa juga dia melihat teman-temannya beda banget dan dia jadi minder. Ada banyak hal yang mungkin terjadi," papar Ratih. Begitu juga dengan guru. Menurut Ratih, saat anak pertama kali datang ke sekolah, jika ia melihat guru yang menyambutnya tidak ramah, biasanya anak langsung menjaga jarak.

Terutama bagi anak-anak yang usianya lebih kecil. Jika nanti suatu saat anak sudah merasa aman, barulah dia mau mendekat dengan gurunya. "Bayangkan kalau muka gurunya galak, menakutkan, atau judes. Anak-anak pasti langsung antipati." Semoga tips Cara Mengatasi Anak Malas Sekolah ini bermanfaat bagi kita semua :)

 Sumber : TabloidNova.com

Tips Mengasuh Anak Yang Mudah Dan Menyenangkan

Tips Mengasuh Anak Yang Mudah Dan Menyenangkan. Bila mengetahui tekniknya. Membuat anak patuh itu perlu beberapa kunci yaitu PARENTING. 

  1. Gunakan P, teknik Pengasuhan yang benar, 
  2. Pahami A= anak adalah anugerah. Pahami apa yang sedang dibutuhkan anak....pahami kondisi psikologis anak sehingga kita bisa mengarahkan hal sesuai kondisi dan kebutuhan anak. 
  3. Pastikan R = Redam amarah kepada anak. Siapapun tidak nyaman patuh pada orang yang memarah2inya,
  4.  E = Empati mendengarkan. Siapapun akan lebih patuh pada orang2nya yang mau mendengarkan isi hati mereka dengan sepenuh hati. 
  5.  N = notifikasi pembicaraan dan tindakan. Bahasa dan sikap yang menyalahkan, membandingkan, mengancam, dan masih ada beberapa pemilihan bahasa yang justru membuat anak melawan. Pilih bahasa hipnosis. 
  6.  T= tanamkan energi positif...pujian akan membuat anak melakukan apa yang kita inginkan...
  7.  I =Istiqomah, harus selalu konsisten dengna apa yang kita katakan....
  8.  NG=meNGadakan time out. Anak2 yang masih kesulitan mengendalikan emosinya sulit untuk bisa patuh. Bantu anak berlatih time out...dan ia akan lebih mudah mengikuti arahan. 

    Agar anak patuh pada orang tua ...
    Tips Mengasuh Anak Yang Mudah Dan Menyenangka resepnya adalah PARENTING... Sumber (ZHRP)

Efek Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga

Efek Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga. Ada beberapa situasi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi anak sehingga tanpa disadari mengatakan atau melakukan sesuatu yang tanpa disadari dapat membahayakan atau melukai anak, biasanya tanpa alasan yang jelas. Kejadian seperti inilah yang disebut penganiayaan terhadap anak. Dalam beberapa laporan penelitian, penganiayaan terhadap anak dapat meliputi: penyiksaan fisik, penyiksaan emosi, pelecehan seksual, dan pengabaian.

Faktor-faktor yang mendukung terjadinya penganiayaan terhadap anak antara lain immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, harapan yang tidak realistis terhadap kemampuan dan perilaku anak, pengalaman negatif masa kecil dari orang tua, isolasi sosial, problem rumah tangga, serta problem obat-obat terlarang dan alkohol. Ada juga orang tua yang tidak menyukai peran sebagai orang tua sehingga terlibat pertentangan dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi/anak menjadi sasaran amarah dan kebencian.

Penyiksaan fisik

Segala bentuk penyiksaan fisik terjadi ketika orang tua frustrasi atau marah, kemudian melakukan tindakan-tindakan agresif secara fisik, dapat berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan rokok, membakar, dan tindakan - tindakan lain yang dapat membahayakan anak. Sangat sulit dibayangkan bagaimana orang tua dapat melukai anaknya. Sering kali penyiksaan fisik adalah hasil dari hukuman fisik yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia anak. Banyak orang tua ingin menjadi orang tua yang baik, tapi lepas kendali dalam mengatasi perilaku sang anak.

Efek dari penyiksaan fisik

Penyiksaan yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik fisik maupun psikis, anak menjadi menarik diri, merasa tidak aman, sukar mengembangkan trust kepada orang lain, perilaku merusak, dll. Dan bila kejadian berulang ini terjadi maka proses recoverynya membutuhkan waktu yang lebih lama pula.

Penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi adalah semua tindakan merendahkan atau meremehkan orang lain. Jika hal ini menjadi pola perilaku maka akan mengganggu proses perkembangan anak selanjutnya. Hal ini dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya anak merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan penderitaan yang tidak kalah hebatnya dari penderitaan fisik.

Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) kebutuhan dasar emosional, meskipun secara fisik terpelihara dengan baik, biasanya tidak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosional tahap awal akan menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat perkembangannya, atau akhirnya mempunyai rasa percaya diri yang rendah.

Jenis-jenis penyiksaan emosi adalah:
  • Penolakan
Orang tua mengatakan kepada anak bahwa dia tidak diinginkan, mengusir anak, atau memanggil anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang anak menjadi kambing hitam segala problem yang ada dalam keluarga.
  • Tidak diperhatikan
Orang tua yang mempunyai masalah emosional biasanya tidak dapat merespon kebutuhan anak-anak mereka. Orang tua jenis ini mengalami problem kelekatan dengan anak. Mereka menunjukkan sikap tidak tertarik pada anak, sukar memberi kasih sayang, atau bahkan tidak menyadari akan kehadiran anaknya. Banyak orang tua yang secara fisik selalu ada disamping anak, tetapi secara emosi sama sekali tidak memenuhi kebutuhan emosional anak.
  • Ancaman
Orang tua mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam anak. Dalam jangka panjang keadaan ini mengakibatkan anak terlambat  perkembangannya, atau bahkan terancam kematian.
  • Isolasi
Bentuknya dapat berupa orang tua tidak mengijinkan anak mengikuti kegiatan bersama teman sebayanya, atau bayi dibiarkan dalam kamarnya sehingga kurang mendapat stimulasi dari lingkungan, anak dikurung atau dilarang makan sesuatu sampai waktu tertentu.
  • Pembiaran
Membiarkan anak terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlaku kejam terhadap binatang, melihat tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan seperti mencuri, berjudi, berbohong, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, membiarkannya menonton adegan-adegan kekerasan dan tidak masuk akal di televisi termasuk juga dalam kategori penyiksaan emosi.
Efek dari penyiksaan emosi

Penyiksaan emosi sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Dengan begitu, usaha untuk menghentikannya juga tidak mudah. Jenis penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak seperti tiba-tiba membakar barang atau bertindak kejam terhadap binatang, beberapa melakukan agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

Pelecehan seksual

Sampai saat ini tidaklah mudah membicarakan hal ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelecehan seksual pada setiap usia – termasuk bayi - mempunyai angka yang sangat tinggi. Bahkan Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi setiap hari di Amerika Serikat.

Pelecehan seksual pada anak adalah kondisi dimana anak terlibat dalam aktivitas seksual dimana anak sama sekali tidak menyadari, dan tidak mampu mengkomunikasikannya, atau bahkan tidak tahu arti tindakan yang diterimanya.
Semua tindakan yang melibatkan anak dalam kesenangan seksual masuk dalam kategori ini:
  • Pelecehan seksual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya jika anak melihat pornografi, atau exhibitionisme, dsb.
  • Pelecehan seksual dengan sentuhan. Semua tindakan anak menyentuh organ seksual orang dewasa termasuk dalam kategori ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apapun yang tidak mempunyai tujuan medis.
  • Eksploitasi seksual. Meliputi semua tindakan yang menyebabkan anak masuk dalam tujuan prostitusi, atau menggunakan anak sebagai model foto atau film porno.

Ada beberapa indikasi yang patut kita perhatikan berkaitan dengan pelecehan seksual yang mungkin menimpa anak seperti keluhan sakit atau gatal pada vagina anak, kesulitan duduk atau berjalan, atau menunjukkan gejala kelainan seksual.

Efek pelecehan seksual

Banyak sekali pengaruh buruk yang ditimbulkan dari pelecehan seksual. Pada anak yang masih kecil dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll. Pada remaja, mungkin secara tidak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi agresif dengan teman kelompoknya, prestasi belajar menurun, terlibat kejahatan, penyalahgunaan obat atau alkohol, dsb.

Pengabaian anak

Pengabaian terhadap anak termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu segala ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga.

Jenis-jenis pengabaian anak:
  • Pengabaian fisik merupakan kasus terbanyak. Misalnya keterlambatan mencari bantuan medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tidak tersedianya kebutuhan akan rasa aman dalam keluarga.
  • Pengabaian pendidikan terjadi ketika anak seakan-akan mendapat pendidikan yang sesuai padahal anak tidak dapat berprestasi secara optimal. Lama kelamaan hal ini dapat mengakibatkan prestasi sekolah yang semakin menurun.
  • Pengabaian secara emosi dapat terjadi misalnya ketika orang tua tidak menyadari kehadiran anak ketika ´ribut´ dengan pasangannya. Atau orang tua memberikan perlakuan dan kasih sayang yang berbeda diantara anakanaknya.
  • Pengabaian fasilitas medis. Hal ini terjadi ketika orang tua gagal menyediakan layanan medis untuk anak meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang tua memberi pengobatan tradisional terlebih dahulu, jika belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.
Efek pengabaian anak

Pengaruh yang paling terlihat adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tidak memperoleh pengganti pengasuh yang memadai, akan mengembangkan perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab (Hurlock, 1990), dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi besar/kecil dampak yang diderita anak

Disamping segala bentuk penganiayaan yang dialami anak sebagaimana yang tercantum diatas, ada beberapa hal yang mempunyai andil dalam besar / kecilnya dampak yang diderita anak, antara lain:
  • Faktor usia anak. Semakin muda usia anak maka akan menimbulkan akibat yang lebih fatal.
  • Siapa yang terlibat. Jika yang melakukan penganiayaan adalah orang tua, ayah atau ibu tiri, atau anggota keluarga maka dampaknya akan lebih parah daripada yang melakukannya orang yang tidak dikenal.
  • Seberapa parah. Semakin sering dan semakin buruk perlakuan yang diterima anak akan memperburuk kondisi anak.
  • Berapa lama terjadi. Semakin lama kejadian berlangsung akan semakin meninggalkan trauma yang membekas pada diri anak.
  • Jika anak mengungkapkan penganiayaan yang dialaminya, dan menerima dukungan dari orang lain atau anggota keluarga yang dapat mencintai, mengasihi dan memperhatikannya maka kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana jika anak justru tidak dipercaya atau disalahkan.
  • Tingkatan sosial ekonomi. Anak pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih merasakan dampak negatif dari penganiayaan anak.
Dalam beberapa kasus anak-anak yang mengalami penganiayaan tidak menunjukkan gejala-gejala seperti diatas. Banyak faktor lain yang berpengaruh seperti seberapa kuat status mental anak, kemampuan anak mengatasi masalah dan penyesuaian diri. Ada kemungkinan anak tidak mau menceritakannya karena takut diancam, atau bahkan dia mencintai orang yang melakukan penganiyaan tersebut. Dalam hal ini anak biasanya menghindari adanya tindakan hukum yang akan menimpa orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anggota keluarga atau pengasuh.

Semoga artikel Efek Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga, bermanfaat buat kita semua :)

 

Senin, 02 September 2013

Tips Agar Anak Tidak Manja

Tips Agar Anak Tidak Manja. Sifat manja anak juga terjadi dalam hal keinginan untuk selalu dekat dengan orang tua. Tidak jarang anak yang sudah dalam usia sekolah masih selalu berrebut dengan adiknya yang balita untuk mendapatkan belaian dari ibunya.


Merengek, menangis, dan uring-uringan. Reaksi itu bentuk perilaku anak manja saat permintaannya tidak dipenuhi. Bagaimana sikap orangtua menghadapi anak manja?
  1. Orang tua harus mempunyai kemauan untuk tidak lagi memanjakan anak. Perilaku manja salah satunya karena selama ini apa saja yang mereka inginkan selalu dituruti.
  2. Mulailah untuk tidak memanjakan anak dan ajarkan hidup mandiri dari hal-hal yang kecil. Misalnya biasakan anak mengambil baju seragam sendiri, mengambil makan atau minum sendiri.
  3. Tindakan untuk tidak memanjakan anak seharusnya juga dilakukan oleh orang tua atau pengasuh yang lain, tidak hanya oleh satu orang saja.
  4. Komunikasilah dengan anak, bahwa seharusnya untuk usia saat ini mulai mempunyai tanggung jawab. Jelaskan mengenai prioritas, bahwa tidak semua yang diinginkan harus terpenuhi.
  5. Jika anak masih mengabaikan perintah orang tua dengan merengek atau menangis, berikan pengertian bahwa tindakan itu tidak benar. Berikan pelukan dan dukungan untuk menenangkan anak.
Karena itu, kenali 10 tanda perilaku anak di bawah ini, dan segeralah bertindak untuk menanganinya.
  1. Mereka menangis dan berteriak bila ingin sesuatu.
  2. Suka merajuk sambil terlentang di lantai dan tak mau bangun.
  3. Sering marah dan bahkan memukul anda ketika anda menghukumnya
  4. Mengabaikan pertanyaan anda.
  5. Bersikap kasar pada orang dewasa dan anak-anak lainnya.
  6. Menolak berbagi mainan atau perlakuan tertentu dengan anak lainnya.
  7. Suka pamer, dan menjadi pusat perhatian diantara kelompoknya.
  8. Selalu menginginkan yang dimiliki orang lain. Bila telah berhasil memilikinya, mereka selalu menginginkan sesuatu yang baru.
  9. Kamarnya berantakan dan tak mau membereskannya, hingga anda mengalah melakukannya.
  10. Menolak untuk tidur.
Semoga Tips Agar Anak Tidak Manja ini bermanfaat buat Anda :)